RESUME EKOLOGI LAUT TROPIS

EKOLOGI LAUT TROPIS

Link Ke Daftar Istilah

Inti permasalahan hidup adalah hubungan makhluk hidup khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut dengan ekologi. Oleh karena itu permasalahan lingkungan hidup pada hakekatnya merupakan permasalahan ekologi.

Istilah ekologi pertama kali digunakan oleh Arnest Haeckel pada pertengahan tahun 1860-an. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah ekologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang makhluk hidup dalam rumahnya atau dapat pula dikatakan sebagai ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup.

Ekologi laut tropis merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungannya yaitu lingkungan laut tropis. Dikatakan laut tropis karena ekosistem ini memiliki karakteristik laut yang berbeda dengan ekosistem laut lainnya (laut subtropis dan laut kutub).

Karakteristik Laut Tropik

1. Tingkat produktivitas

Laut Tropis : tingkat produktivitasnya sangat tinggi karena intensitas penyinaran matahari terus menerus sepanjang tahun dan hanya ada dua musim yaitu hujan dan kemarau sehingga kondisi ini sangat optimal bagi produksi fitoplankton di sepanjang tahun.

Laut Subtropis : intensitas sinar matahari di laut subtropis bervariasi menurut musim (dingin, semi, panas dan gugur). Tingkat produktivitas akan berbeda pada setiap musim. Pada musim semi tingkat produktivitasnya tinggi dan pada musim dingin sangat rendah.

Laut Kutub : masa produktivitas sangat pendek (Juli atau Agustus) yaitu saat musim panas dimana fitoplankton bisa tumbuh.

2. Jenis predator tertinggi dalam rantai makanan

Laut Tropis : jenis predator tertinggi di laut tropis adalah ikan tuna, lansetfish, setuhuk, hiu sedang dan hiu besar. Predator lainnya adalah cumi-cumi dan  lumba-lumba.

Laut Subtropis : predator tertinggi di laut subtropis adalah lumba-lumba, anjing laut, singa laut, ikan paus dan burung-burung laut. Predator lainnya adalah ikan salem dan cumi-cumi.

Laut Kutub : predator tertinggi adalah ikan paus. Predator lainnya adalah anjing laut dan singa laut.

3. Struktur trofik komunitas pelagik

Jaring-jaring makanan dan struktur trofik komunitas pelagik berbeda pada tiga daerah geografik (laut tropik, subtropik, kutub). Jumlah dan jenis masing-masing tingkat trofik berbeda, yaitu laut tropik yang paling banyak, diikuti oleh laut subtropik dan terakhir laut kutub.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumya, bahwa ekologi mempelajari hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya atau dengan kata lain ekologi adalah ilmu yang mempelajari ekosistem.

Ekosistem adalah  suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem pertama kali dikemukakan oleh Tansley pada tahun 1835. Sistem ini memiliki beberapa  nama lain, diantaranya seperti yang dikemukakan oleh Forbs pada tahun 1887 menyebut ekosistem sebagai mikrokosm, Friederich pada tahun 1930 menyebut holocoen, dan Thienemann tahun 1939 menyebut biosistem.

Pembagian Ekosistem

1. Berdasarkan Tingkat makan-memakan (trophic level)

–          Autotrophic organism (organisme autotrop) yaitu organisme yang mampu mensistesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dari bahan-bahan anorganik sederhana dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil).

–          Heterotropic organism (organism heterotrop) yaitu organisme yang menyusun kembali dan menguraikan bahan-bahan organik kompleks yang telah mati ke dalam senyawa anorganik sederhana.

2. Berdasarkan segi fungsional

–          Aliran energi

–          Rantai makanan

–          Pola keanekaragaman dalam ruang dan waktu

–          Siklus hara / daur makanan (biogeokimia)

–          Pengembangan dan evolusi

–          Pengendalian / kontrol (sibernetik)

3. Berdasarkan Unsur Penyusun

–          Komponen abiotik yang merupakan medium

–          Produsen (organisme autotrofik)

–          Konsumen (organisme heterotrofik)

–          Pengurai (organisme saprotrofik dan osmotrofik)

Faktor Penyebab Perbedaan Ekosistem

–          Perbedaan kondisi iklim (hutan hujan, hutan musim, hutan savana)

–          Perbedaan letak dari permukaan laut, topografi, dan formasi geologik (zonasi pada pegunungan, lereng pegunungan yang curam, lembah sungai)

–          Perbedaan kondisi tanah dan air tanah (pasir, lempung, basah, kering)

Tipe Ekosistem

  1. Ekosistem terestris (daratan)

–          Ekosistem hutan

–          Ekosistem padang rumput

–          Ekosistem gurun

–          Ekosistem anthropogen atau buatan (sawah,

–          kebun, dan lainnya)

2.Ekosistem akuatik (perairan)

–          Ekosistem air tawar, misalnya kolam, danau, sungai, dan lainnya

–          Ekosistem lautan

NICHE

Konsep relung (niche) dikembangkan oleh Charles Elton (1927) ilmuwan Inggris. Niche atau nicia atau ecological niche adalah kedudukan, peran dan fungsi suatu jenis makhluk hidup dalam habitat hidup / ekosistemnya. Tidak hanya tergantung di mana organisme tadi hidup, tetapi juga pada apa yang dilakukan organisme termasuk mengubah energi, bertingkah laku, bereaksi, mengubah lingkungan fisik maupun biologi dan bagaimana organisme dihambat oleh spesies lain. Pengetahuan tentang nicia, sebagai landasan untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dan ekosistem dalam habitat utama.

Dengan adanya konsep niche didalam suatu ekosistem, akan timbul suatu hukum interaksi yang berlaku bagi makhluk hidup yang ada pada ekosistem tersebut. Hukum Interaksi yang terjadi pada ekosistem laut.

  • Netral : penyu dan ikan tuna
  • Kompetisi : ikan tuna dan ikan tongkol
  • Predasi : penyu dan rumput laut
  • Mutualisme : ikan hiu dan ikan remora
  • Komensalisme :
  • Parasitisme : ikan dan bakteri
  • Antibiosa/amensalisme : Alelopaty dari gulma

Suksesi (dari bahasa Latin: sub = di bawah, setelah; cedere = berlalu) merupakan proses perubahan komunitas yang terjadi sedikit demi sedikit dalam jangka waktu tertentu menuju satu arah hingga terbentuk komunitas yang berbeda dari komunitas semula. Dalam proses suksesi, perubahan yang terjadi tidaklah berlangsung secara terus menerus, tetapi akan berakhir setelah mencapai batas tertentu yaitu pada komunitas atau ekosistem yang stabil, disebut klimaks.

Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem dan adanya perbedaan penyerbuan (invasi) tiap jenis ke suatu wilayah baru.

Berdasarkan kondisi habitat pada awal proses suksesi terjadi, dikenal adanya dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder. Suksesi primer terjadi apabila ada gangguan pada komunitas asal yang mengakibatkan hilang atau musnahnya komunitas asal secara total sehingga di tempat komunitas asal tersebut terbentuk habitat atau substrat baru dengan komunitas yang baru pula. Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami (misalnya, endapan lumpur di muara sungai atau estuarine, endapan pasir di pantai/akresi, ataupun tanah longsor/erosi tanah) atau dibuat oleh manusia (contohnya, pengurukan lahan dan pertambangan). Suksesi sekunder terjadi karena gangguan pada komunitas atau ekosistem baik secara alami (banjir, tsunami, dsb) maupun buatan tidak memusnahkan ekosistem asal secara total. Oleh karena itu, pada komunitas atau ekosistem asal substrat lama dan kehidupan masih ada. Sisa-sisa komunitas tersebut dapat tumbuh dan membentuk komunitas baru.

SIKLUS BIOGEOKIMIA

Pada dasarnya semua unsur kimia di alam akan mengalami sirkulasi, yaitu dari bentuk yang berada di dalam lingkungan (abiotik) menuju ke dalam bentuk yang berada di dalam organisme (biotik), dan kemudian kembali lagi ke lingkungan. Proses ini disebut sebagai siklus atau daur ulang biogeokimiawi, atau siklus materi.

Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi jugs melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia.

Pendaurulangan unsur-unsur organik tersebut sangat penting bagi kelangsungan hidup semua organisme. Hal ini disebabkan sumber unsur-unsur sangat terbatas sehingga unsure-unsur anorganik menjadi habis terpakai jika digunakan secara terus menerus. Berikut ini proses siklus biogeokimia beberapa unsur-unsur anorganik penting, diantaranya Nitrogen (N), Fosfor (F), Carbon (C) dan Oksigen (O).

1. Siklus Nitrogen (N2)

2. Siklus fosfor

3. Siklus karbon dan oksigen

PENGELOLAAN SUMBER DAYA WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN SECARA TERPADU

Konsep pengelolaan wilayah pesisir dan lautan

Dikenal juga dengan terminologi:

–          Integrated Coastal Zone Management (ICZM)

“Pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di kawasan pesisir dengan cara melakukan penilaian secara menyeluruh (Comprehensive assessment)”

–          Integrated Coastal Zona Planning and Management

–          Integrated Coastal Management

–          Integrated Coastal Resources Management

–          Coastal Zone Resources Management

–          Coastal Resources Management

–          Coastal Zone Management

–          Konsep pengelolaan di atas akan menghasilkan:

–          Marine Management Area/Marine Protection Area: Daerah Pengelolaan Laut/Daerah Perlindungan Laut

Potensi SDA Pesisir dan Laut

–          Indonesia → negara kepulauan (sekitar 17.000 buah pulau)

–          Wilayah pesisir dan laut luas (3,1 km2 dan ZEE 2,7 km2)

–          Garis pantai memuat habitat pantai yang sangat bervariasi, 81 km, kedua terpanjang setelah Canada

–          Terumbu karang (600 dari 800 spesies) menyediakan berbagai barang dan jasa untuk makanan dan mata pencaharian, pariwisata, sumber bahan obat dan kosmetik, habitat

–          Perlindungan dan bertelur

–          Mangrove (40 spesies mangrove sejati dari 50 spesies) Mangrove → nursery ground, spawning, dan feeding ground  banyak spesiesikan dan udang dan memberikan perlindungan terhadap gelombang

–          Lamun (12 spesies) → nursery ground, daerah pencarian makan bagi mamalia laut

–          Rumput Laut (56 spesies) → Rumput laut/seaweed à pangan dan obat-obatan

–          Ikan (6,6 juta ton/tahun)

Pesisir

1.Wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang, dan ke arah laut meliputi daerah papaan benua

2. Perencanaan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Sektoral: oleh satu instansi pemerintah untuk tujuan tertentu misal perikanan, konflik kepentingan

Perencanaan Terpadu: mengkoordinasikan mengarahkan berbagai aktivitas kegiatan. Terprogram untuk tujuan keharmonisan, optimal antara kepentingan lingkungan, pembangunan ekonomi dan keterlibatan masyarakat, pengaturan tataruang.

EKOSISTEM TERUMBU KARANG

Terumbu karang (coral reef ) sebagai ekosistem dasar laut dengan penghuni utama karang batu mempunyai arsitektur yang mengagumkan dan dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut polip. Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh tentakel. Namun pada kebanyakan spesies, satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni (Sorokin, 1993).

Meskipun beberapa karang dapat dijumpai dari lautan subtropis tetapi spesies yang membentuk karang hanya terdapat di daerah tropis. Kehidupan karang di lautan dibatasi oleh kedalaman yang biasanya kurang dari 25 m dan oleh area yang mempunyai suhu rata-rata minimum dalam setahun sebesar 10oC. Pertumbuhan maksimum terumbu karang terjadi pada kedalaman kurang dari 10 m dan suhu sekitar 25 o C sampai 29 oC. Karena sifat hidup inilah maka terumbu karang banyak dijumpai di Indonesia (Hutabarat dan Evans, 1984).

Selanjutnya Nybakken (1992) mengelompokkan terumbu karang menjadi tiga tipe umum yaitu :

  1. Terumbu karang tepi (Fringing reef/shore reef )
  2. Terumbu karang penghalang (Barrier reef)
  3. Terumbu karang cincin (atoll)

Diantara tiga struktur tersebut, terumbu karang yang paling umum dijumpai di perairan Indonesia adalah terumbu karang tepi (Suharsono, 1998). Penjelasan ketiga tipe terumbu karang sebagai berikut :

  1. Terumbu karang tepi (fringing reef) ini berkembang di sepanjang pantai dan mencapai kedalaman tidak lebih dari 40m. Terumbu karang ini tumbuh keatas atau kearah laut. Pertumbuhan terbaik biasanya terdapat dibagian yang cukup arus. Sedangkan diantara pantai dan tepi luar terumbu, karang batu cenderung mempunyai pertumbuhaan yang kurang baik bahkan banyak mati karena sering mengalami kekeringan dan banyak endapan yang datang dari darat.
  2. Terumbu karang tipe penghalang (Barrief reef ) terletak di berbagai jarak kejauhan dari pantai dan dipisahkan dari pantai tersebut oleh dasar laut yang terlalu dalam untuk pertumbuhan karang batu (40-70 m). Umumnya memanjang menyusuri pantai dan biasanya berputar-putar seakan – akan merupakan penghalang bagi pendatang yang datang dari luar. Contohnya adalah The Greaat Barier reef yang berderet disebelah timur laut Australia dengan panjang 1.350 mil.
  3. Terumbu karang cincin (atol) yang melingkari suatu goba (laggon). Kedalaman goba didalam atol sekitar 45m jarang sampai 100m seperti terumbu karang penghalang. Contohnya adalah atol di Pulau Taka Bone Rate di Sulawesi Selatan.

Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat dimanfaatkan oleh manusia adalah:

  • sebagai tempat hidup ikan yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang pangan, seperti ikan kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning), batu karang,
  • pariwisata, wisata bahari melihat keindahan bentuk dan warnanya.
  • penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di dalamnya.

Jaring Makanan Terumbu Karang

Secara garis besar tingkat trofik dalam jejaring makanan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok produsen yang bersifat autotrof karena dapat memanfaatkan energi matahari untuk mengubah bahan-bahan anorganik menjadi karbohidrat dan oksigen yang diperlukan seluruh makhluk hidup, dan kelompok  konsumen yang tidak dapat mengasimilasi bahan makanan dan oksigen secara mandiri (heterotrof).

EKOSISTEM PADANG LAMUN


  • Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidupnya terbenam di dalam laut
  • Padang lamun ini merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang  tinggi
  • Fungsi ekologi yang penting yaitu sebagai feeding ground, spawning ground dan nursery ground beberapa jenis hewan yaitu udang dan ikan baranong, sebagai peredam arus sehingga perairan dan sekitarnya menjadi tenang

Ancaman Terhadap Padang Lamun

  • Pengerukan dan pengurugan dari aktivitas pembangunan (pemukiman pinggir laut, pelabuhan, industri dan saluran navigasi)
  • Pencemaran limbah industri terutama logam berat dan senyawa organoklorin
  • Pembuangan sampah organik
  • Pencemaran limbah pertanian
  • Pencemaran minyak dan industri

Upaya pelestarian Padang Lamun

  • Mencegah terjadinya pengrusakan akibat pengerukan dan pengurugan kawasan lamun
  • Mencegah terjadinya pengrusakan akibat kegiatan konstruksi di wilayah pesisir
  • Mencegah terjadinya pembuangan limbah dari kegiatan industri, buangan termal serta limbah pemukiman
  • Mencegah terjadinya penangkapan ikan secara destruktif yang membahayakan lamun
  • Memelihara salinitas perairan agar sesuai batas salinitas padang lamun
  • Mencegah terjadinya pencemaran minyak di kawasan lamun

Metode Pengukuran dan Penentuan Status Padang Lamun

  • Metode Transek Garis atau Line Intercept Transect (LIT) dan Petak contoh (Transect plot)
  • Yaitu metode pencuplikan contoh populasi suatu komunitas dengan pendekatan petak contoh yang berada pada garis yang ditarik melewati wilayah ekosistem tersebut

Pemanfaatan Lamun

Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Hewan yang hidup pada padang lamun ada berbagai penghuni tetap ada  pula yang bersifat sebagai pengunjung. Hewan   yang  datang sebagai pengunjung biasanya untuk memijah atau mengasuh anaknya seperti ikan. Selain  itu, ada pula hewan yang datang mencari makan seperti sapi laut (dugong-dugong) dan penyu (turtle) yang makan lamun Syriungodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii (Nontji, 1987).

Di daerah padang lamun, organisme melimpah, karena lamun digunakan sebagai perlindungan dan persembunyian dari predator dan kecepatan arus yang tinggi dan juga sebagai sumber bahan makanan baik daunnya mapupun epifit atau detritus. Jenis-jenis polichaeta dan hewan–hewan nekton juga banyak didapatkan pada padang lamun. Lamun juga merupakan komunitas yang sangat produktif sehingga jenis-jenis ikan dan fauna invertebrata melimpah di perairan ini. Lamun juga memproduksi sejumlah besar bahan bahan organik sebagai substrat untuk algae, epifit, mikroflora dan fauna.

EKOSISTEM MANGROVE

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan yang terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari 8% (Departemen Kehutanan, 1994 dalam Santoso, 2000).

Menurut Nybakken (1992), hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Hutan mangrove meliputi pohon-pohon dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili, dan terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga : Avicennie, Sonneratia, Rhyzophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus (Bengen, 2000).

Daya Adaptasi Mangrove Terhadap Lingkungan

Tumbuhan mangrove mempunyai daya adaptasi yang khas terhadap lingkungan. Bengen (2001), menguraikan adaptasi tersebut dalam bentuk :

  1. Adaptasi terhadap kadar kadar oksigen rendah, menyebabkan mangrove memiliki bentuk perakaran yang khas : (1) bertipe cakar ayam yang mempunyai pneumatofora (misalnya : Avecennia spp., Xylocarpus., dan Sonneratia spp.) untuk mengambil oksigen dari udara; dan (2) bertipe penyangga/tongkat yang mempunyai lentisel (misalnya Rhyzophora spp.).
  2. Adaptasi terhadap kadar garam yang tinggi :

–          Memiliki sel-sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan garam.

–          Berdaun kuat dan tebal yang banyak mengandung air untuk mengatur keseimbangan garam.

–          Daunnya memiliki struktur stomata khusus untuk mengurangi penguapan.

3.  Adaptasi terhadap tanah yang kurang strabil dan adanya pasang surut,   dengan cara mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk jaringan horisontal yang lebar. Di samping untuk memperkokoh pohon, akar tersebut juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan menahan sedimen.

Ancaman terhadap Hutan Mangrove

Perubahan hutan mangrove menyebabkan gangguan fungsi ekologi mangrove:

– Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak, pemukiman,    pertanian, pelabuhan dan perindustrian

– Pencemaran limbah domestik dan bahan pencemar lainnya

– Penebangan ilegal

Kriteria Baku Kerusakan Mangrove

Parameter Penutupan (%) Kerapatan (pohon/Ha)
Baik Sangat Padat > 70% > 1500
Sedang > 50 – < 75 > 1000 – <1500
Rusak Jarang < 50 < 1000

KepMen LH No.201 Tahun 2004

disusun oleh :

Reza Muhammad Azhar (230210080007)

Enjang Hernandi Hidayat (230210080068)

~ by Ejja sinchan on April 15, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: